Dua mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang (PBJ), Undiksha kembali mengharumkan nama Universitas dalam Lomba Speech Online Bunkasai XIX Universitas Riau (UNRI). Lomba ini dilaksanakan secara daring pada tanggal 1 April 2026. Safira Febrilia Khairunnisa berhasil meraih Juara 1 lomba speech online dengan mengangkat tema budaya Indonesia yaitu wayang. Agus Eka Tresna Mahendra berhasil meraih juara harapan dengan mengangkat tema Barong Brutuk: Ritual Suci Turun Temurun dari desa Trunyan, Bali. Prestasi membanggakan yang diraih oleh kedua mahasiswa ini tidak luput dari bimbingan dosen pembimbing Ni Nengah Suartini, S.S., M.A., Ph.D., yang telah memberikan masukan dalam menyusun materi lomba speech.
Safira, mahasiswa yang berhasil meraih juara 1 dalam ajang lomba speech mengungkapkan bahwa salah satu kendala yang dihadapinya adalah sesi tanya jawab yang mengharuskannya menggunakan bahasa Jepang. Terlebih karena itu merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba speech sehingga terasa cukup menantang. Meski demikian, dengan persiapan yang dilakukan selama kurang lebih satu bulan, Ia mampu memberikan penampilan terbaiknya. Menurutnya “kunci keberhasilan dalam lomba ini adalah dengan memahami isi materi speech yang sudah dibuat, sehingga dapat tersampaikan dengan lebih percaya diri”. Kedepannya, Safira berkmoitmen untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepangnya serta mencoba berbagai kesempatan lomba lainnya. Ia juga berpesan bahwa “Jika ada kesempatan lomba, jangan ragu untuk mencoba. Takut itu hal yang wajar, namun dari sanalah kita bisa menambah pengalaman”.
Sementara itu, Mahendra sebagai peraih juara harapan mengungkapkan bahwa meskipun mengalami berbagai tantangan, seperti pencarian dan penyusunan materi serta penyesuaian istilah tertentu ke dalam bahasa Jepang tetapi ia berhasil mengatasinya. Ia juga menambahkan bahwa melalui lomba ini, dirinya memperoleh wawasan baru mengenai tradisi Barong Brutuk. Mahendra berpesan, walaupun zaman telah berubah, tetapi tradisi, budaya, dan kesenian harus tetap dijaga. Menurutnya “Zaman memang selalu berubah, namun hal tersebut tidak dapat menjadi alasan untuk meninggalkan tradisi, budaya, dan kesenian. Di era globalisasi, tantangan memang semakin besar, tetapi budaya tetap merupakan identitas berharga yang harus diwariskan, dipelajari, dan dipahami oleh generasi penerus agar tetap lestari dan harmonis”.






