Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bekerja sama dengan Eurasia Foundation kembali mengadakan Public Lecture Series #14 pada Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini menghadirkan Prof. Yasuhiko Sukegawa dari Tokyo International University sebagai narasumber utama, dengan Ni Nengah Suartini, S.S., M.A., Ph.D. (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Undiksha) sebagai moderator.
Dalam perannya sebagai moderator, Ni Nengah Suartini memandu jalannya diskusi sekaligus memperkenalkan Prof. Sukegawa sebagai akademisi yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang pengajaran bahasa Jepang, sosiolinguistik, serta penelitian mengenai migrasi dan pemerolehan bahasa. Ia juga menjelaskan bahwa Prof. Sukegawa pernah berafiliasi dengan Tohoku University dan memiliki kedekatan dengan Indonesia, khususnya Manado, sehingga mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan bahasa Minahasa.
Public lecture kali ini mengangkat tema “Language Acquisition by Minahasan Migrant Workers in Oarai Town Japan: Comparison of the First Generation and the Second Generation.” Tema tersebut membahas bagaimana pekerja migran asal Minahasa mempelajari dan menggunakan bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari mereka di Kota Oarai, Jepang.
Prof. Sukegawa menjelaskan bahwa Oarai merupakan sebuah kota kecil di Prefektur Ibaraki yang telah menjadi tempat tinggal masyarakat Minahasa sejak tahun 1990-an. Saat ini, lebih dari seribu warga Indonesia tinggal di wilayah tersebut dan sebagian besar berasal dari Minahasa. Mereka bekerja di berbagai sektor, terutama pengolahan ikan, pertanian, dan konstruksi.
Dalam pemaparannya, Prof. Sukegawa mengulas berbagai aspek kehidupan para pekerja migran Indonesia di Jepang, mulai dari pendapatan, biaya hidup, hingga tantangan sosial yang mereka hadapi. Meskipun upah kerja di Jepang relatif tinggi dibandingkan di Indonesia, biaya hidup yang besar serta tuntutan pekerjaan yang berat menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja migran.
Selain membahas aspek ekonomi, Prof. Sukegawa juga menjelaskan kehidupan sosial masyarakat Minahasa di Oarai. Menurutnya, komunitas tersebut memiliki ikatan yang kuat melalui gereja, keluarga, dan budaya daerah asal. Keberadaan gereja komunitas Minahasa turut menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat Indonesia di Jepang.
Salah satu pembahasan yang menjadi perhatian dalam kuliah umum ini adalah hasil penelitian Prof. Sukegawa mengenai kemampuan bahasa Jepang pekerja migran Minahasa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama lebih dari 20 tahun, sebagian besar pekerja migran generasi pertama menunjukkan perkembangan kemampuan bahasa Jepang yang relatif lambat meskipun telah tinggal cukup lama di Jepang. Menurutnya, perkembangan teknologi dan internet memungkinkan para migran menjalani aktivitas sehari-hari dengan bantuan berbagai layanan digital sehingga kebutuhan untuk menguasai bahasa Jepang secara mendalam menjadi berkurang. Kondisi tersebut berbeda dengan pengalamannya ketika tinggal di Manado pada tahun 1980-an, saat ia harus mempelajari bahasa Indonesia dan bahasa Minahasa secara langsung untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat setempat.
Prof. Sukegawa juga menyoroti persoalan pekerja migran ilegal di Jepang. Ia menjelaskan bahwa pemerintah Jepang kini semakin memperketat pengawasan terhadap imigran ilegal, khususnya di Prefektur Ibaraki yang menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus cukup tinggi. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya mengikuti prosedur hukum dan menggunakan jalur resmi bagi masyarakat yang ingin bekerja di Jepang.
Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Undiksha, kegiatan ini memiliki relevansi akademik yang kuat, khususnya dalam kajian pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition), sosiolinguistik, serta penggunaan bahasa Jepang dalam masyarakat multibudaya. Paparan Prof. Sukegawa memberikan gambaran nyata mengenai faktor-faktor sosial, budaya, dan teknologi yang memengaruhi proses pemerolehan bahasa Jepang oleh penutur asing, sehingga memperkaya wawasan mahasiswa PBJ mengenai penerapan teori kebahasaan dalam konteks kehidupan masyarakat Jepang.
Kegiatan public lecture berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber. Para mahasiswa tampak antusias mengikuti pembahasan mengenai bahasa, budaya, serta kehidupan masyarakat Indonesia di Jepang. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang dapat memperoleh wawasan baru mengenai isu migrasi, pemerolehan bahasa, dan dinamika sosial budaya masyarakat Indonesia di luar negeri.






