Singaraja, 30 Maret 2026– Prodi PBJ FBS Undiksha kembali menyelenggarakan kegiatan pertukaran budaya dengan Iwate University di ruang Nitisastra, FBS Undiksha. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan I dan III Fakultas Bahasa dan Seni, Ketua Jurusan Bahasa Asing. Koordinator Prodi PBJ, dosen-dosen prodi PBJ , Panitia Kegiatan, serta mahasiswa prodi PBJ semester 2, 4, dan 6. Dari Iwate University, hadir Kiyotaka Nakashima, selaku Vice President of Iwate University, Enviromental Management Office, Nobutoshi Suga, selaku Coordinator of Support for International Exchange, Serta 7 mahasiswa Iwate University yaitu Chise Mizonu, Taito Sagara, Yua Suzuki, Chieri Yokosawa, Takahashi Yuuna, Kawarahata Rio, Iizuka Ruri.
Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang ditandai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sambutan kegiatan diberikan oleh Wakil Dekan I Fakultas Bahasa dan Seni Dr. Ni Luh Putu Eka Sulistia Dewi, S.Pd., M.Pd., yang menyampaikan sambutan hangat dalam kegiatan kolaborasi dengan mahasiswa dan dosen dari Iwate University, Jepang, sekaligus mengucapkan selamat datang dan mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin selama beberapa tahun. Beliau menekankan pentingnya kegiatan lingkungan seperti reforestasi di Danau Tamblingan agar berdampak positif dan berkelanjutan, serta menyoroti pentingnya pertukaran budaya bagi mahasiswa. Selain itu, beliau juga menyampaikan kekagumannya terhadap Jepang dari segi budaya, masyarakat, dan teknologi, serta berharap kolaborasi ini berjalan sukses dan bermanfaat. Sambutan Selanjutnya Perwakilan dari Iwate University, Mr. Kiyotaka Nakashima, menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat dari Universitas Pendidikan Ganesha. Kegiatan kolaborasi ini merupakan yang ke-11, dan sudah berjalan sejak 26 Maret dan berakhir pada 1 Maret, melibatkan mahasiswa kedua universitas dalam proyek lingkungan dan budaya. Ia berharap semua mahasiswa dapat menikmati pembelajaran tentang budaya Jepang maupun Indonesia. Sebagai tanda apresiasi, Iwate University memberikan hadiah untuk Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha.
Setelah sesi pembukaan, dimulailah kegiatan inti, yaitu presentasi. Iizuka Ruri menjelaskan tentang budaya populer Jepang yang menekankan keimutan atau kawaii, seperti karakter Pom-Pom Purin, Hello Kitty, Mario, Sinchan, dan Doraemon. Ia menjelaskan juga sejarah gijinka, yaitu budaya mengubah benda, hewan, atau sel menjadi karakter manusia, yang sudah ada sejak 1000 tahun lalu. Budaya ini berakar dari keprcayaan Shinto yang meyakini bahwa benda dan alam memiliki roh. selain itu, ia juga menekankan bagaimana karakter Jepang sekarang terkenal di seluruh dunia, namun juga mengingatkan tentang pentingnya tidak menjual barang tiruan secara sembarangan karena barang barang tersebut memiliki hak cipta.
Presentasi berikutnya disampaikan oleh Taito Sagara dengan memperkenalkan pekerjaan unik di Jepang yang jarang ditemui di negara lain, seperti layanan pengurusan resign yang membantu orang menyampaikan keinginan berhenti kerja kepada perusahaan, sewa keluarga untuk hadir di acara pernikahan, serta pekerjaan oshiya, yaitu mendorong orang masuk ke kereta pada jam sibuk. Ia menjelaskan konteks sosial dan budaya di balik setiap pekerjaan, misalnya alasan orang menggunakan jasa resign karena sulit mengungkapkan perasaan mereka, atau mahasiswa yang bekerja paruh waktu sebagai oshiya.
Selanjutnya presentasi dari Chieri Yokosawa, yang memaparkan profesi tradisional Jepang dengan mengandalkan keterampilan tinggi, seperti pengrajin kayu (miyadaiku), pembuat permen seni (amezaiku), dan kepala pembuat sake (tauji). Ia menekankan bahwa pekerjaan ini melestarikan tradisi dan teknik khas Jepang, seperti kigumi yaitu merangkai kayu tanpa paku. Profesi-profesi ini menonjolkan kreativitas dan keahlian tingkat tinggi (Takumi no waza), sehingga menjadi warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi, sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi Jepang tetap hidup melalui praktik nyata sehari-hari.
Chise Mizuno melanjutkan sesi presentasi membahas profesi di industri hiburan Jepang, termasuk idol yang menari dan menyanyi, geinin (komedian), penyiar atau pembawa acara (announcer), aktor, dan pengisi suara anime. Ia menjelaskan bagaimana profesi ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk fanbase dan interaksi budaya populer. Mahasiswa ini menyoroti kemampuan pengisi suara yang kini juga tampil menari dan bernyanyi secara langsung, menunjukkan kombinasi keterampilan lintas bidang dan inovasi yang tinggi di dunia hiburan Jepang.
Presentasi yang terakhir disampaikan oleh Yua Suzuki menjelaskan tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pariwisata dan layanan tradisional Jepang, termasuk nakai di ryokan yang mengurus tamu dari kedatangan hingga tidur, jinrikisha yang bertugas mengangkut penumpang dengan menarik kendaraan sendiri sambil berkeliling tempat wisata. Setiap jinrikisha menanggung beban total sekitar 200–250 kilogram, termasuk berat kendaraannya dan penumpang, dan dapat menempuh jarak 20–30 kilometer per hari. Pekerjaan ini menuntut stamina tinggi, pengetahuan rute, kemampuan komunikasi, dan keterampilan berbahasa. Selain itu, mahasiswa juga menjelaskan peran Maiko-san yang menampilkan tarian, lagu, dan memainkan shamisen untuk tamu, yang menggabungkan keterampilan, interaksi sosial, dan pelestarian budaya tradisional Jepang.




alu




